AKU? atau TEMANKU??


Aku atau temanku?
pagi hari di SMA DHARMA JAYA, sudah ramai dengan banyaknya anak-anak yang nongkrong sambil main gitar di koridor kelas sembari menunggu bel masuk. Terdengar suara merdu anna dan raisa yang sedang bernyanyi bersama teman-temannya, tiba-tiba nyanyian mereka berhenti, “waaahh kerennya”, ucap raisa. “mulai deh_-“ jawab anna ketus. “ini nih kalo udah keracunan sama yang namanya cinta”, sanggah dion salah satu teman mereka. “ih loh kalian ini ngomong apa sih, gangggu konsentrasi aja!”, saut raisa. “lanjut ga nih nyanyinya”, Tanya dion. “lanjutin aja sendiri, gw mau modus dulu, haha”, ucap raisa sambil menarik anna pergi.
Raisa sudah 2 tahun diam-diam menyukai radit, sebenarnya ga diem-diem juga sih, tapi ga frontal juga :D. setiap hari dia selalu menyiksa anna ‘, dengan selalu mengajaknya duduk didepan kelas untuk modus pada radit. dan selalu meminta tolong pada anna untuk menyampaikan salamnya pada radit. “ga bosen-bosen nih anak sama orang satu itu, udah tau dia ga peka-peka, tapi tetep aja dimodus-modusin”, canda anna pada raisa. “saya sendiri aja bingung na kenapa saya susah banget buat ga nginget-nginget radit itu, kan ga ada yang tahu masa depan, siapa tau dia bakalan jadi milik gw”, balas raisa sambil tersenyum tipis.
Setiap hari selasa setiap minggunya raisa selalu menyuruh anna menyampaikan salamnya pada radit, karena mereka sama-sama senior di ekskul seni bermusik. Setiap kali anna menyampaikan pesan raisa, radit selalu menjawab, “iya salamnya diterima, salam balik aja ya”, sambil tersenyum tipis dan mengalihkan pembicaraan kearah lain. Radit dan anna cukup dekat, bahkan sudah seperti kakak-adik, karena itu raisa tidak pernah cemburu atau marah saat anna dekat dengan radit, lagipula menurutnya ini adalah kesempatan yang bagus buat dia.
Tiba-tiba suatu hari radit meminta anna menemuinya ditaman sekolah, tentu saja anna tidak menyembunyikan hal itu dari raisa, meskipun dia tidak tahu apa yang ingin dikatakan radit, raisa menyuruh temannya itu cepat-cepat menemui radit karena dia sangat ingin tau apa yang ingin disampaikan oleh radit pada anna, setelah kurang lebih 30 menit anna pergi akhirnya dia kembali, wajahnya seperti orang kebingungan, karena terlalu kepo raisa langsung menyerbu anna dengan pertanyaan-pertanyaannya. Anna sempat diam seperti tidak mendengarkan raisa, lalu ia langsung menjawab, “a..apa, ah iya, dia bilang jam latihan harus ditambah, hanya itu”, sambil tersenyum aneh.
Setibanya dirumah anna masih seperti orang kebingungan, lalu dia berbaring dikamarnya, sambil nge- Flashback kejadian ditaman tadi.
“iya kenapa kak?”, Tanya anna.
“gini na, sebenernya ada hal yang udah lama pengen gw sampein, tapi gw gak pernah sempet buat ngomongnya”, jawab radit.
“apa kak?, masalah latihan ya?”
“bukan..bukan itu, sebenernya gw udah lama suka sama kamu na”
Anna hanya diam, “gw suka sama gaya kamu na, senyuman kamu, sikap kamu ke junior-junior kita..”
“tapi kak..”, potong anna. “kakak taukan raisa temen anna suka sama kakak, jadi..”
“na.., ini masalah hati, kalo cinta ga bisa dipaksain na, gw ga suka sama raisa, yang gw suka Cuma kamu”, jelas radit. “anna perlu waktu kak”
“gw tau, tapi gw harap kamu bisa jawab sebelum jam 12 nanti malem, soalnya besok gw bakalan pergi keluar kota buat urusan lomba”.
Dikamarnya anna masih ragu untuk menjawab apa, dia tau bahwa sahabat baiknya yaitu raisa sudah lama menyukai radit, tapi di satu sisi entah apa yang sedang terjadi, seperti ada perasaan aneh yang membuat hatinya tidak ingin menolak radit. “kenapa ini bisa terjadi, dan perasaan aneh apa ini, kenapa aku merasa sangat nyaman saat radit ada disisiku, sedangkan temanku sendiri juga,…. Agh! Semua ini membuatku merasa sesak”, oceh anna sambil melemparkan tasnya ke lantai. Tanpa sadar dia tertidur pulas, bahkan dia lupa untuk makan malam. Tiba-tiba dia terbangun dari mimpinya lalu buru-buru mencari ponsel dan jamnya. “hah, jam 10 malam?, hari ini benar-benar aneh”. Lalu dia menekan beberapa angka dan menelponnya. “halo..”, terdengar dari ponselnya. “iya, kak ini anna”, “ooh iya na, gimana? Udah ada jawabannya?”. “udah kak, anna mau nerima kakak, tapi anna punya satu permintaan kak,………………………….”
“apa?!”, jawab radit terkejut mendengar penjelasan dan permintaan anna. “ini aneh na, gw kayaknya ga bisa, mana mungkin gw mau sedangkan gw tau itu bisa nyakitin hati kamu”.
“iya kak, tapi anna ga papa kok kak, ayolah kak ini satu-satunya cara supaya anna bisa sedikit merasa tenang kak”, dengan terpaksa radit menuruti permintaan anna yaitu menyatakan cinta pada raisa.

Setelah pulang dari lomba, radit langsung menembak raisa, spontan raisa langsung menerimanya. Raisa sangat senang, bahkan ia tidak berhenti bercerita dan tertawa dengan anna, “ternyata ini sedikit sakit”, lirih anna dalam hati, namun ia tetap mencoba tersenyum. Sebulan telah berlalu, namun raisa masih belum tahu bahwa sahabatnya itu rela menyuruh pacarnya untuk menjadi pacar sahabatnya juga. Sedangkan hubungan anna dengan radit berada diambang kehancuran, karena radit selalu sibuk dengan urusannya dan raisa bahkan dia tidak sempat untuk menelpon anna, karena itu anna merasa sedikit kesal pada radit. hingga akhirnya berbalik anna yang mendiamkan radit. karena merasa anna semakin menjauhinya, maka radit menemui anna sepulang dari latihan, dia mengajak anna pulang bersamanya, namun anna hanya diam saja dan menangis, “maafkan gw na.. gw ga bermaksud buat ga nerima telpon kamu, na.. kamu taukan gw ga ada rasa sama raisa, ini Cuma karna permintaan kamu na”, jelas radit, namun disatu sisi terlihat raisa yang sedang mendengar pembicaraan mereka, raisa menatap mereka dengan kesal, lalu dia berlari meninggalkan mereka, radit melihat raisa pergi, namun ia bingung harus mengikuti yang mana, “kenapa gw jadi gini, kenapa gw jadi sedih ngeliat raisa pergi gitu aja”. Radit ingin memberitahu pada anna bahwa dia melihat raisa, namun ia hanya memendamnya.

Keesokan harinya sikap raisa sangat aneh pada anna, dia bahkan tidak menyapa anna. Anna bertanya-tanya dalam hati, namun ia tidak berani menanyakannya, karena dia mengira raisa hanya ingin pura-pura marah padanya. Namun sikap raisa tetap seperti itu hingga pulang, karena bingung anna bertanya pada raisa, “kamu kenapa sih ca hari ini, aneh banget tau!”, Tanya anna.
“gw udah tau semuanya kok, jadi  sandiwara ini cukup nyampe disini aja”, jawab raisa.
“apaan sih maksud kamu ca?, saya ga ngerti” anna berpikir sejenak lalu bertanya, “apa mungkin..”
“iya,(potong raisa), gw udah tau hubungan kamu sama kak radit, gw mau ngucapin makasih banget, tapi seharusnya kamu dari awal ga perlu ngelakuin hal kayak gini, serasa kayak orang tolol gw selama ini”, “tunggu dulu ca, kamu salah paham”
“gw berasa kayak orang yang jahat yang pengen ngerusak kebahagiaan temennya sendiri”,
“tapi ca bukan gitu, gw juga bingung kenapa ngambil keputusan kyk gitu, tapi jujur gw bukan mau buat seakan-akan kamu jadi orang jahat ca”.
“udahlah..”, ucapraisa
“dengerin penjelasan gw dulu ca, gw sama radit udah putus kok”
“gw mau dengerin, tapi ga buat hari ini”, jawab raisa sambil meninggalkan anna yang sedang menangis tersedu-sedu.

Tak lama setelah raisa berjalan, ia bertemu dengan radit, radit menghentikan motornya dan berbicara dengan raisa, namun raisa hanya mengatakan, “gw lagi ga pengen denger penjelasan apapun, gw bakalan dengerin, tapi ga buat hari ini, dan ingat kata gw tadi malam kak, kita udah PUTUS dan kita ga ada hubungan apa-apa lagi, kakak temui aja anna, dia mungkin masih disekolah”., lalu berjalan pergi lagi.
“tapi ca..(sebenernya tanpa gw sadari  gw mulai suka sama kamu)” ucap radit dalam hati. Lalu pergi menjemput anna, setelah sampai dirumah anna, “maaf kak, saya tau iniudah salah dari awal, memang mungkin seharusnya kita ga pernah ada hubungan”, ucap anna sambil menutup gerbang rumahnya.

Sepekan dari itu, mereka bertiga masih tampak canggung, lalu tiba-tiba raisa kembali menyapa anna, anna sangat senang sampai-sampai meneteskan air mata, “yang udah berlalu gakan terulang lagi, jadi ga perlu disesali, lebih baik kita berpikir gimana buat kedepannya dari pada terus flashback kebelakang”, ucap raisa pada anna, lalu mereka kembali seperti dulu, dimana saat mereka bisa tertawa bersama. Dan disisi lain radit baru menyadari bagai mana perasaan raisa dulu saat dia menyukai radit secara diam-diam, karena sekarang dialah yang mulai menyukai raisa secara diam-diam.  “dia itu seperti sebuah kebiasaan, dimana sulit untuk ditinggalkan. Seharusnya aku mempercayai saat orang berkata bisa karena terbiasa bukan malah mengacuhkannya.  Tapi dari sini aku menyadari bahwa memang tidak ada yang tidak mungkin… mungkin kini giliranku yang harus mengejar cinta raisa”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Lama

Apa bisa??

Daily Pages, Teruntuk Teman baik-Terbaik ku