you make it possible part II
YOU MAKE IT POSSIBLE PART II
enam tahun telah berlalu, dan kini aku kembali ke kota
kecil ini untuk menjadi sukarelawan, namun tempat ini sudah banyak berubah,
bahkan aku tidak tahu lagi dimana teman-temanku. Tapi ada satu tempat yang tidak berubah,
yaitu bangunan sekolah menengah pertamaku dulu, aku berkeliling lagi dan sampai
disebuah gudang lama dulu, sekarang gudang ini sudah sangat penuh oleh
bangku-bangku tapi kulihat mejaku dulu masih tetap berada didepan, aku tahu itu
mejaku karena ada tulisan CFR. Kulihat lagi mejaku dari dekat, dan ada sebuah
kertas terselip dilubang-lubang meja. Kutarik kertas itu dan ternyata itu
suratku dulu, “heh.. ternyata waktu itu hanya halusinasiku jika surat ini
menghilang”. Akhirnya surat ini kembali ketanganku dan aku harus menghapuskan
semua kenangan-kenangan pada masa itu, karena semua itu sudah terlalu lama
tersimpan dihatiku.
Keesokan harinya mentari fajar menyambut pagiku, aku
mulai berkeliling lagi mencari posko kesehatan, lalu kulihat di sebuah bangunan
bekas sekolah didirikan posko kesehatan yang kucari. Disana sudah lumayan ramai
oleh masyarakat, tetapi hanya ada 1 dokter yang menjadi sukarelawan disana, aku
langsung memakai jas putihku dan membantu dokter itu melayani masyarakat. Tak
terasa seharian ini telah berlalu karena banyak sekali masyarakat yang datang,
aku dan dokter itu membereskan posko karena besok akan dibuka lagi, sebenarnya
akupun belum tahu nama dokter itu, bahkan dia belum membuka maskernya dari tadi
pagi. Dia bertanya padaku, “apa kau ingin pulang bersamaku?”, tapi aku menjawab
tidak, karena aku sedang ingin sendirian. Lalu aku berjalan pulang, tapi dokter
itu sepertinya terus mengikutiku dengan mobilnya. Aku benar-benar tidak
mengerti, karena merasa diikuti aku berenti disalah satu rumah warga, tapi dia
terus jalan ternyata dia tidak mengikutiku. Hari kedua aku menjadi sukarelawan
sangat menyenangkan, karena masyarakat disini masih sangat baik dan masih ingat
padaku, jadi mereka mengajakku jalan-jalan , dokter itu masih menutupi wajahnya
dengan masker, dan bahkan sampai sekarang aku tidak berani bertanya namanya.
Tiba-tiba ibuku menelpon dan mengatakan penyakit jantung
adikku kambuh, jadi aku langsung buru-buru pergi meninggalkan kota ini lagi.
Setelah kembali kerumah setelah adikku selesai dioperasi, entah kenapa
pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dokter misterius itu.
Aku tersenyum lalu memejamkan mataku, “apa mungkin dia membantuku melupakan
cafa?”, ucapku dalam hati dan akupun tertidur, namun tiba-tiba aku bermimpi
cafa menarikku kegudang sekolah dan memberiku sebuah surat, aku terbangun dan
langsung teringat pada suratku. Kubulak-balik suratku tapi.. tidak ada apa-apa.
“aku masih berharap”, ucapku dalam hati. “berhentilah
berharap padanya, karena semua itu tidak mungkin, bahkan mungkin sekarang dia
telah hidup bahagia bersama manda”. Masa-masa itu sungguh indah, dank arena
terlalu indah maka semua itu terasa bagaikan sebuah mimpi, mimpi terburuk yang
pernak kualami, karena menyukai seseorang yang tak seharusnya kusukai. Aku
benar-benar bodoh karena terus menunggunya, dan terus berharap padanya.
Dua bulan telah berlalu, kini aku menjadi sukarelawan
lagi di kota kecilku itu, namun kali ini aku hanya sendirian tidak ada dokter
itu lagi, namun taklama kulihat seorang pria berjas putih turun dari mobilnya
didepan posko, ternyata dia adalah dokter itu namun kali ini dia tidak memakai
maskernya, aku tahu itu dia karena matanya terlihatsangat familiar. Dia
tersenyum melihatku, lalu dia menghampiriku dan berkata, “sungguh sulit untuk
kembali”dan tersenyum. Lalu dia langsung membantuku melayani pasien.
“mata, wajah, dan senyum ini seperti sudah lama kukenal ,
mungkin karena aku terlalu sering memikirkan dokter ini”, pikirku. Saat selesai
dia mengajakku pulang bersama, kali ini entah kenapa aku tidak bisa menolaknya,
lalu saat perjalanan pulang situasi di mobil sangat hening, jadi aku memulai pembicaraan
dengan bertanya namanya, lalu dia menjawab”RADITYA, apakah kamu tidak
mengenaliku lagi ma?”, “apa?, apakah kita pernah berkenalan atau kita dulu
pernah berteman saat masih sekolah?”, raditya hanya tersenyum. Lalu raditya
bercerita tentang wanita yang ia cintai pergi meninggalkannya sebelum ia sempat
mengungkapkan perasaannya pada wanita itu.
Saat sampai dirumah tempatku menumpang, akuterus merasa
ada yang janggal, lalu tiba-tiba mati lampu aku segera menghidupkan lilin, lalu
aku membaca lagi suratku itu saat kudekatkan suratku itu dengan lilin,
tiba-tiba ada seperti tulisan dari lilin dikertas itu yang meleleh,
“aku juga mencintaimu, tapi aku tidak ingin mengulang
kembali kemasa itu melainkan aku ingin memperbaiki masa depan kita, aku ingin
kita bisa terus bersama, aku akan menunggu hingga kau kembali kesini, jadi
jangan lupakan aku.. caffa”.
Apa ini?, apakah benar cafa telah membaca surat ini? Lalu
aku teringat dengan ucapan dan cerita dokter raditya saat pulang tadi, “apakah,
apakah dokter raditya adalah caffa raditya?”, tanyaku dalam hati. Keesokan
paginnya aku datang agak terlambat keposko, kulihat disana cafa tapi ada
seorang wanita yang membantunya, apakah itu manda?, pikirku, “aku bodoh karena
berpikir cafa sengaja jadi sukarelawan disini karena menungguku”, ucapku, lalu
akupun berjalan pergi. Namun tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, aku
langsung memberontak, ternyata itu cafa, “kenapa kau pergi? Apa kau sudah
mengenaliku?”.
“itu tidak penting, kembalilah, wanita itu pasti
menunggumu”, ucapku.
“bodoh, seharusnya kau bilang saat hatimu ingin aku
tinggal bersamamu, bukan menyuruhku pergi menemui wanita lain. Kau sudah baca
surat itu?, sebenarnya semua itu sudah lama ingin kuungkapkan, tapi aku tidak
bisa karena waktu kita tidak pernah tepat. Mungkin ini kesempatan terbaik
untukku mengatakan padamu, bukan menjadi pacarku, tapi maukah kau menjadi
pengantinku??”, Tanya cafa.
Aku hanya diam karena aku selalu berpikir semua ini tidak
mungkin bisa terjadi, ini benar-benar seperti sebuah mimpi.
“aku tidak pernah berpikir semua ini mungkin terjadi
padaku, aku selalu berkata pada diriku bahwa kau tidak mungkin suka padaku,
tapihari ini, kau buat semua itu mungkin”, jawabku. Caffa langsung memelukku,
lalu masyarakat tertawa melihat kami….. “kau yang membuat semua ini mungkin”,
ucap cafa dalam hati.

Komentar
Posting Komentar